Mengidentifikasi Hazard Gempa Bandung Di Bekas Danau Bandung Purba

Untuk mengidentifikasi hazard gempa dari Bandung :

1. Berada di bekas danau rawa Bandung purba

2. Potensi likuifaksi dari gempa sekitarnya – sesar lembang

Untuk itu segera dipastikan persiapan mitigasi di sana.

Danau Bandung purba . Sumber : Budi Brahmantyo - ITB

Danau Bandung purba . Sumber : Dam 1994 dari Van Bemmelen 1949

Danau Bandung purba

Peta geologi Badnung dan sekitarnya

Danau Bandung purba. Sumber : Dr. Danny Hilman Natawidjaja - LIPI. Klik di gambar untuk memperbesar.

Danau Bandung purba. Sumber : Dr. Danny Hilman Natawidjaja - LIPI. Klik di gambar untuk memperbesar.

Bandung - sesar Lembang. Sumber : Dr. Danny Hilman Natawidjaja - LIPI. Klik di gambar untuk memperbesar.

Bandung - Jawa barat - sesar sekitarnya. Sumber : Dr. Danny Hilman Natawidjaja - LIPI. Klik di gambar untuk memperbesar.

Bandung - sesar sekitarnya. Sumber : Dr. Danny Hilman Natawidjaja - LIPI. Klik di gambar untuk memperbesar.

Bandung - sesar Lembang. Sumber : Dr. Danny Hilman Natawidjaja - LIPI. Klik di gambar untuk memperbesar.

Gempa 6.0SR 24 November 1964 17:41:33 WIB, kedalaman 125 km. Klik di gambar untuk memperbesar.

Klik di gambar untuk memperbesar

Klik di gambar untuk memperbesar

.

.

Mengidentifikasi Hazard Gempa Serang (PADARINCANG, CIOMAS) Di Bekas Danau Rawa Banten Purba

Untuk mengidentifikasi hazard gempa dari provinsi Serang dengan kecamatan sekitar Padarincang dan Ciomas :

1. Berada di bekas danau rawa Banten purba yang berupa endapan Alluvial dan batu vulkanis kuarter

2. Potensi likuifaksi dari gempa sekitarnya

3. 0.7 – 0.8 g 0.2 detik spectral response acceleration 2% 50 tahun dengan 5% damping di batuan dasar dari SNI 03-1726-2010 Peta hazard gempa Indonesia – Standar perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non gedung

4. Sumber gempa laut dari selat Sunda dan gempa darat di sekitarnya sendiri

Saat ini wilayah tersebut padat penduduk sekitar 30rb KK. Untuk itu segera dipastikan persiapan mitigasi di sana.

Lokasi Serang (PADARINCANG, CIOMAS) di bekas danau rawa Banten purba. Klik gambar untuk memperjelas.

Perhatikan padatnya populasi di daratan bekas danau rawa Banten purba. Klik gambar untuk memperjelas.

Lokasi Serang (PADARINCANG, CIOMAS) di bekas danau rawa banten purba. Perhatikan kontur ketinggian hingga 600 m di sebelah utara dan rata2 di sekelilingnya 200m. Purba. Daerah lebih rawan di bawah ketinggian yang 600m. Klik gambar untuk memperjelas.

Tampak cekungan bekas danau rawa Banten purba menghadap utara. Klik gambar untuk memperjelas.

Tampak cekungan bekas danau rawa Banten purba menghadap barat. Klik gambar untuk memperjelas.

Tampak cekungan bekas danau rawa Banten purba menghadap selatan. Klik gambar untuk memperjelas.

Tampak cekungan bekas danau rawa Banten purba menghadap selatan. Klik gambar untuk memperjelas.

Peta geologi bekas danau rawa Banten purba yang menunjukkan jenis batuannya. Klik gambar untuk memperjelas.

Catatan gempa darat di sekitarnya. Klik gambar untuk memperjelas.

Catatan gempa laut dari selat Sunda. Klik gambar untuk memperjelas.

Mengapa dan Bagaimana Pesisir Pulau Mewaspadai Bahaya Tsunami Paska Gempa Tsunami Aceh 26 Desember 2004, Tasikmalaya 17 Juli 2006, Pagai Selatan 25 Oktober 2010, dan Jepang 11 Maret 2011

Masih jelas dalam ingatan kita, bagaimana bencana gempa tsunami Aceh 26 Desember 2004. Namun kemudian, terjadi lagi bencana tsuami 1.5 tahun kemudian Tasikmalaya 17 Juli 2006. Dari 2 bencana tsunami tersebut kita coba terus berbenah namun tetap terjadi bencana tsunami Pagai Selatan 25 Oktober 2010. Yang terakhir 11 Maret 2011 Jepang, negara super maju khususnya dalam bencana khususnya tsunami namun juga tak berdaya menghadapi tsunami.

Apakah dalam minimal 7 tahun terakhir ini, manusia tidak belajar banyak dari gempa tsunami sebelumnya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, yang pertama perlu diketahui adalah mengapa gempa tsunami bisa terjadi dan di mana potensi dapat terjadinya? Dalam bahasa sederhana, tsunami bermula dari air laut dari pantai surut menuju ke tengah laut lalu kembali pasang ke pantai asalnya dalam waktu yang sangat singkat (belas – puluh menit), seperti orang pergi lalu pulang lagi mungkin karena ada yang tertinggal sehingga membuat yang di rumah terkejut, mengapa kembali lagi. Namun mengapa begitu besar energi merusaknya? Hal ini karena volume air laut yang berbalik sangat besar (misalkan garis pantai yang surut 100 km, air laut dari pantai yang berpindah ke tengah laut 100 km, kedalaman air laut yang bergerak 10 km maka akan tercipta volume air laut 100.000 km3, yang bergerak dengan sangat cepat) dan berubah menjadi energi mekanik penghancur yang memiliki percepatan. Selanjutnya setelah mencapai daratan pinggir pantai akan bertambah energi mekaniknya karena bertambahnya benda-benda yang ikut hanyut untuk menghantam dan menghanyutkan ke daratan yang makin dalam. Energi tersebut makin berkurang dengan makin tingginya daratan.

Faktor yang menyebabkan tsunami tersebut adalah gempa yang cukup besar, sekitar lebih dari 7SR dan berada dekat air laut sehingga harus ada perubahan tinggi dasar laut sehingga menyebabkan air laut dari pantai mendadak surut ke tengah laut untuk selanjutnya berbalik sebagai seperti pasang air laut ke pantai asalnya. Sehingga salah satu faktor penting untuk mencari potensi tsunami adalah apakah paska gempa besar tersebut dalam beberapa waktu kemudian terjadi penurunan air laut di sekitar sumber gempa. Karena gempa tsb berada di tengah laut maka belum tentu dirasakan di daratan, jadi yang paling penting adalah penurunan / surutnya air laut secara mendadak paska gempa, meski dalam jam surutnya air laut atau air laut sedang pasang. Besarnya penurunan air laut tsb salah satu faktor yang akan menentukan besarnya tsunami yang akan terjadi.

Jadi jelaslah di mana tsunami dapat terjadi, di daerah pesisir pantai. Khusus di wilayah Sumatra, Jawa, dan Jepang (juga di wilayahtertentu lainnya), terjadi subduksi antara 2 lempeng di mana satu lempeng lebih keras/kuat dari lempeng lainnya sehingga lempeng yang keras/kuat tersebut akan mensubduksi di bawah lempeng yang lebih lunak. Dalam hal ini lempeng yang lebih keras berupa lempeng samudra dan lempeng yang lebih lunak berupa lempeng daratan. Sumatra, jawa, dan Jepang berada di lempeng benua/daratan, berupa pulau2.

Lempeng samudra tersebut bergerak miring di bawah pulau2 dalam sebuah sudut kemiringan tertentu dan kedalaman tertentu (dapat hingga 700 km). Karena bergerak miring di bawah kepulauan maka garis perbatasan/pertemuan antara 2 lempeng tsb dapat berbeda2 antar wilayah dan bidang pertemuan/interface antar lempeng juga berveda2 tergantung kemiringan/kedalaman (sama seperti garis miring segitiga). Makin panjang garis miring pertemua lempeng tsb maka makin banyak potensi terjadinya gempa di atasnya (laut, lempeng benua/daratan). Laut pesisir barat pulau Sumatra (sebagian daratan sumatra), pesisir selatan jawa (sebagian daratan Jawa) berada di atas sisi miring bidang miring/ interface antara lempeng samudra indoaustralia dengan dengan benua euroasia.

Berikut ini adalah data garis perbatasan pertemuan antar lempeng dan jarak horisontal dari pertemuan lempeng ke pinggir pantai (tepat di atas bidang miring interface lempeng indoaustralia – euroasia) :

  1. Aceh – 290 km
  2. 120 km pulau Kokos, 270 km
  3. 70 km pulau Simeulue, 170 km
  4. 95 km pulau Babi/Lasia, 225 km
  5. 131 km pulau bangkaru / Tuangku / Ujungbatu, 200 km
  6. 82 km pulau Nias, 250 km
  7. 100 km pulau tanahbala/tanahmasa/simuk/sigata/telo/sipika/bodjo/pini/masa, 218 km
  8. 76 km pulau Siberut, Padang 255 km
  9. 90 km pulau Sipura, 232 km
  10. 93 km pulau Pagai, 202 km
  11. 113 km pulau Enggano, 254 km
  12. 205 km ujungkulon
  13. 210 km Ciracap
  14. 228 km Sindangbarang
  15. 240 km Pameungpeuk/cibalong
  16. 278 km Nusakambangan
  17. 265 km Yogya
  18. 255 km pulau Sempu/Barung
  19. 255 km Banyuwangi

Secara kira2 garis laut dari pantai yang berada di atas interface antar lempeng adalah 200 km, artinya sepanjang 200 km berpotensi terjadinya gempa dan tsunami. Apalagi pulau2 kecil di pesisir barat Sumatra berpeluang mendapat 2 sumber tsunami, dari kiri dan dari kanan.

Pemahaman sederhana tersebut memberi gambaran bagaimana potensi tsunami di wilayah2 tsb. Dengan kecepatan tsunami di lautan yang makin mengecil sampai di daratan, dari video tsunami Jepang tampak jelas bagaimana mobil yang berusaha kabur dari tsunami, dapat tertangkap dan binasa oleh tsunami.

Bencana tsunami dapat menimbulkan korban bervariasi berdasarkan waktu kejadian. Seperti di Pagai selatan terjadi di malam hari saat orang baru saja mulai tidur malam sehingga sangat tidak siap dan waktu untuk menolong paling cepat besok pagi karena gelap. Yang di Jepang sedikit lebih baik karena terjadi sore sehingga relatif lebih siap namun waktu untuk memberi pertolongan juga baru bisa besok pagi karena sudah terlanjur gelap.

Artinya banyak faktor yang membuat bencana gempa tsunami makin menimbulkan bencana, seperti juga gempa biasa lainnya. Namun bencana lebih besar karena besarnya tinggi air laut yang menghancurkan daratan dapat dikurangi dengan menjadikan daerah sepanjang pantai sebagai daerah hijau, tidak boleh untuk dijadikan usaha dan tempat tinggal. Harus dijadikan wilayah konservasi. Panjang dari pesisir pantai bisa bervariasi beberapa km, sesuai dengan perhitungan kecepatan rambat gelombang tsunami di daratan dan profil tinggi permukaan pantai. Semakin landai maka perlu makin panjang daripada pesisir pantai yang terjal (bahkan tebing batu).

Konsep ini sangat sederhana untuk dimengerti namun tidak sedemikian mudah untuk diterapkan karena perlu merelokasi masyarakat yang sudah bermukim di sana. Untuk itu perlu pendekatan berbagai pihak. Cara ini lebih sederhana tidak memerlukan sistem teknologi tinggi sensor tsunami yang mahal dan kadang tidak/gagal berfungsi. Cara ini lambat tapi pasti. Jika dihitung dari besarnya biaya relokasi terhadap manfaat, bisa dikaji dibandingkan terhadap besarnya biaya sistem sensor tsunami Ina TEWS terhadap manfaat. Manfaat dari segi ekologi lingkungan akan sangat positif, akan makin meningkatnya luas hutan bakau sebagai pemecah ombak tsunami terdepan (bisa selebar puluhan hingga ratusan meter sepanjang pantai), meningkatnya populasi ikan dan burung di hutan bakau. Di belakang hutan bakau, ditanam pohon2 berakar tunjang yang kuat terhadap serangan tsunami yang tingginya hingga 10 meter, sebagai pemecah tsunami tahap kedua, hutan buatan ini bisa selebar beberapa ratus meter lebih. Contoh kasus Jepang 11 Maret 2011 adalah green belt (daerah hijau) dijadikan lahan pertanian seperti palawaija termasuk hidroponik, profil pantai yang datar sehingga meski ada sea wall (dinding beton) sepanjang pantai namun dengan tinggi tsunami 10 meter, hasilnya tidak efektif – sia sia. Selanjutnya baru diperuntukkan tanah pertanian, bukan pemukiman/perkantoran/tempat usaha.

Semoga ada pemerintah daerah  beserta LSM lokal ataupun asing ada yang mau berusaha menerapkan sebagai percontohan dengan adanya penyesuaian sesuai wilayah dan kebijakan lokal/adat setempat di wilayah pesisir pantai yang rawan gempa tsunami.